Kamis, 19 Februari 2009

Sendi Islam dalam Bekerja

LIMA SENDI ISLAM DALAM BEKERJA
Oleh: Herlan Firmansyah, S.Pd, M.Pd

Menjadi suatu keniscayaan bagi seorang muslim, untuk senantiasa meluruskan niatnya ketika ia melakukan sebuah aktivitas duniawi. Betapa tidak, setiap derap langkahnya dan setiap hembusan nafasnya senantiasa dalam “argo” malaikat yang akan dipertanggungjawabkan dihadapan-Nya. Sungguh merugi jika aktivitas kita bersifat “zero values” dihadapan-Nya, hanya karena terlintas dalam benak niatan-niatan duniawi dan “tuhan-tuhan” duniawi yang menjadikan kita tergelincir.
Bagi setiap muslim diberikan modal waktu yang sama, yakni 24 jam. Dengannya ada yang suskes dan ada pula yang gagal, ada yang masuk surga adapula yang masuk neraka. Kuncinya satu, manajemen waktu. Selain itu, dari modal waktu 24 jam tersebut sebagian besar digunakan untuk melakukan aktivitas duniawi, diantanya bekerja. Melalui tulisan singkat ini, penulis ingin berbagi tentang tuntunan illahiyyah ketika kita melakukan pekerjaan. Agar mudah dipahami, penulis meramunya menjadi lima sendi sebagi berikut:
1. Bekerja harus dijadikan niatan amal saleh dan dijalankan dengan ikhlas. Hal ini dimaksudkan supaya:
a. Dalam pelaksanaannya tidak mengalami kerugiaan, sesuai dengan firman Allah:
“Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran (Q.S Al Ashr :1-3).”
b. Pada akhirnya kita memperoleh kehidupan yang baik dan pahala yang lebih baik, sesuai dengan firman Allah swt sbb:
“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan dalam kedaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami berikan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (Q.S An Nahl :97).”

Sungguh merugi jika kita bekerja hanya karena uang atau bentuk-bentuk harta lainnya. Hati-hati jika ada perasaan kecewa jika kita sudah bekerja secara optimal sementara penghargaan dan uang tidak datang. Jika demikian, berarti kita bekerja hanya karena uang dan penghargaan, padahal keduanya bersifat fana. Bekerjalah dengan niatan esa hanya karena Allah swt, niscaya akan senantiasa bahagia, karena Allah abadi dan sumber segala sumber kebahagiaan.
2. Bekerja harus dapat menjaga nama baik yakni harus dijalankan secara jujur, tidak mengambil keuntungan dengan cara berdusta, karena jika aktivitas atau prilaku dusta atau dzalim masih dijalankan maka firman Allah swt:
“………..dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta (Q.S Al Imran:61)”
“Dan Kami turunkan Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian (Q.S Al Israa:82).”

Jangan korbankan nama baik kita dengan bersifat serakah terhadap harta, sikut sana, sikut sini demi uang, padahal hal tersebut pasti akan merusak nama baik kita. Sungguh murah harga diri kita jika mengorbankan nama baik demi uang, padahal uang hanya numpang lewat kedalam dompet kita.
3. Bekerja harus menjadikan kita bertambah ilmu, karena seperti kita ketahui bersama, bahwa Allah swt akan mengangkat seseorang yang berilmu beberapa derajat dari yang lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt:
“……………….Allah meningkatkan derajat orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberikan kepadanya ilmu pengetahuan beberapa derajat…….(Al Mujaadalah : 11).”
Ilmu adalah cahaya, semain banyak ilmu semakin terang kehidupan dan semakin tahu jalan terbaik yang harus kita pilih. Membaca, mengikuti seminar, pelatihan dan sejenisnya akan menjadi pintu datangnya ilmu. Jika diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan atau seminar, manfaatkanlah dan niatkan untuk mendapatkan ilmu dan bukan niat mendapatkan sertifikat. Sertifikat tidak akan bisa memberikan cahaya, sertifikat hanya memberikan manfaat dunia jangka pendek, tapi ilmu menjangkau dua dimensi, yakni manfaat dunia dan akhirat.
4. Bekerja harus dijadikan ajang silaturahmi. Hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhori :
“Dari Abu Hurairah r.a, saya mendengar Rasulullah saw bersabda siapa yang ingin rezekinya dibanyakan dan umurnya dipanjangkan, hendaklah ia menyembungkan tali silaturahmi”
Dengan silaturahmi, maka bertambahlah jaringan dan bertambah pula ikatan persaudaraan, minimal sesama teman kerja.
5. Bekerja harus menguntungkan diri dan orang lain (bermanfaat bagi diri dan orang lain). Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Oleh karenanya, jangan hanya berpikir meraup keuntungan untuk diri sendiri saja, ingatlah bahwa dalam keuntungan yang kita dapatkan, ada hak orang lain yang harus kita keluarkan. Semoga Bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar